*Kaidah ke 1. “Anugerah Allah kepada Lukman Berupa Hikmah dan Perintah Bersyukur”*

Firman Allâh :
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”
(QS. Luqman : 12)

Faidah :
1. Allah memuji Luqman dan Menganugerahkan kepada beliau Hikmah.
2. Perintah untuk selalu bersyukur kepada Allâh, karena sejatinya orang yang bersyukur kepada Allâh, maka ia telah bersyukur terhadap dirinya.
3. Adapun orang yang enggan bersyukur (kufur), maka Allah tidak butuh dengan syukurnya, karena Allâh itu Maha Kaya lagi Terpuji.

*Kaidah ke 2. “Nasehat Pertama Luqman kepada Anaknya”*

Allâh berfirman :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”
(Qs. Luqman : 13)

Faidah :
1. Anjuran bagi ayah untuk berdiskusi, mendidik dan menasehati anak.
2. Anjuran menggunakan panggilan yang menunjukkan rasa sayang kepada anak, seperti sebutan “ya bunayya…”
3. Ajakan Luqman pertama kali kepada anaknya adalah TAUHID, yaitu larangan menyekutukan Allâh.
4. Syirik itu adalah KEZHALIMAN PALING BESAR.
5. Zhalim itu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, karena itulah menyekutukan Allâh artinya menempatkan makhluk selain Allâh sebagai sekutu bagi Allâh, ini adalah kezhaliman paling besar.

*Kaidah ke 3. “Nasehat Luqman untuk berbakti kepada orangtua”*

Allâh berfirman :
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.
(Qs. Luqman : 14)

Faidah :
1. Kewajiban untuk Birrul Walidain, dan betapa besarnya keutamaan Birrul Walidain sehingga seringkali birrul walidain ini disebut setelah tauhid di dalam al-Qur’an.
2. Keutamaan ibu dibanding ayah, dimana ibu yg mengandung anak selama 9 bulan dengan penuh pengorbanan dan berasa berat. Kemjudian, Ibu-lah yang menyusui dan menyapih anaknya selama 2 tahun.
3. Kewajiban bersyukur kepada orangtua karena Allâh menggandengkan syukur kepada orangtua dan bersyukur kepada-Nya.
4. Kita semua akan kembali kepada Allâh.

*Kaidah ke 4. “Menyikapi orang tua yang menyeru kepada kekafiran”*

Allah ta’aala berfirman :
(وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ)
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.
(QS. Luqman : 15)

Faidah :
1. Tidak wajib menaati orang tua dalam kemaksiatan apalagi kesyirikan namun tetap wajib mempergauli keduanya dengan cara baik.
2. Wajib tetap mengikuti jalan orang yang kembali dan bertaubat kepada Allah karena semuanya akan kembali kepada Allah.

*Kaidah ke 5. “Nasehat Luqman untuk Muroqobatullah (selalu merasa diawasi Allâh)”*

(يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ)
(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.
(QS. Luqman : 16)

Faidah :
1. Metode Lukman di dalam mengajarkan muroqobatullah (merasa diawasi Allah) dengan cara memberikan tamtsil atau perumpamaan, yaitu meski perbuatan itu sebesar biji sawi yang berada di dalam batu atau di langit atau di bumi, maka Allah mengetahuinya dan akan membalasnya.
2. Cara Mendidik anak untuk mengenal sifat Tuhannya dan mengajarkan asma wa sifat Allah, bahwa Allâh itu al-Lathif (Maha Lembut) lagi al-Khabir (Maha Teliti)

📝 Catatan Kecil Kajian Syaikh Amin al-Anshori di Dauroh Syar’iyyah fi Mausû’ah ath-Thifl al-Muslim (Pelatihan Ensiklopedia Pendidikan Anak Muslim), Magelang, 26-28 Maret 2018

✏️ Abu Salma (@abinyasalma)

Join channel kami di:
📱telegram: telegram.me/masjidalmuslimun
🌐website: www.masjidalmuslimun.org
🎬YouTube: youtube.com/masjidalmuslimun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *